Bibit Durian Bawor (Kaki 3)
Rp 255.000
Berat: 2kg
`Mau Dong!

Spesifikasi Bibit Durian Bawor (Kaki 3)


Bibit tanaman Durian Bawor (Kaki 3) yang:
  • Sudah berakar
  • Hasil dari okulasi
  • Tinggi kurang lebih 80-100cm
  • Dikirim dengan media tanam secukupnya
  • Bonus polybag untuk pindah tanam

Syarat & Kondisi Tumbuh Durian Bawor (Kaki 3)


Durian Bawor (Kaki 3) yang Anda dapatkan memiliki sifat sebagai berikut:
  • Butuh sinar matahari sepanjang hari
  • Dapat ditanam di pot diameter minimal 60 cm apabila ingin dijadikan tanaman buah dalam pot (tabulampot)
  • Dapat berbuah 3-4 tahun sejak bibit ditanam
  • Media tanam berupa tanah dan humus
  • Penyiraman dilakukan 1x sehari
  • Pemupukan dengan NPK Daun 1x sebulan
  • Tinggi tanaman ketika dewasa nantinya sekitar 5 meter, tapi bisa dibuat lebih pendek dengan pemangkasan rutin

Lainnya Tentang Bibit Durian Bawor (Kaki 3)


Berikut kondisi produk lain yang perlu kami sampaikan:
  • Untuk mengurangi stres pada tanaman, sebagian daun, bunga, cabang dan ranting kami pangkas pada saat dikirim.

Deskripsi Varietas Durian Bawor (Kaki 3)


Durian Bawor Kaki Tiga merupakan bibit durian Bhineka Bawor ‘ciptaan’ Sarno dari Kemranjen (di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah) dengan kualitas yang lebih unggul karena memiliki 3 batang bawah sebagai penopang tanaman. Selain tidak mudah tumbang, bibit durian Bawor kaki tiga memiliki lebih banyak akar yang memungkinkannya untuk bertumbuh dan berbuah lebih cepat daripada bibit berkaki satu, karena kemampuannya untuk menyerap unsur hara secara lebih baik. Keistimewaan buahnya adalah ukuran yang besar dan rasa khas durian lokal Indonesia.

Sarno mengatakan bahwa harga durian Bawor per kilo rata-rata Rp 50 ribu, sementara harga per buah umumnya berkisar antara Rp 100 ribu dan Rp 450 ribu. Buah yang berukuran besar dengan bobot lebih dari 7 kg biasanya ia jual dengan sistem lelang di kebun durian Bawor miliknya. Pada Desember 2017, ia dilaporkan melelang tiga “duren” dan terjual dengan harga Rp 2,7 juta kepada konsumen dari Boyolali.

Sebuah artikel di Liputan6.com menyebut durian ini sebagai salah satu dari 3 varietas durian lokal (kedua varietas lainnya yaitu durian Matahari dan durian Pelangi) yang berpotensi “menandingi popularitas durian montong.” Harga jual buahnya di sejumlah daerah sering melonjak akibat ketersediaan dan pasokan yang terbatas. Pada tahun 2016, seorang pedagang di Jakarta dikabarkan mematok harga durian Bawor per kilo sebesar Rp 75 ribu.

Asal Durian Bawor


Sejarah durian Bawor bermula dari obsesi Sarno Ahmad Darsono yang ingin mengalahkan popularitas durian Monthong dari Thailand, mengingat sangat banyaknya jenis durian di Indonesia. Ia meyakini bahwa metode okulasi bisa mempercepat waktu pohon durian mulai berbuah menjadi empat tahun. Dengan mempelajari kelebihan dan cara meningkatkan produktivitas durian, ia memulai percobaannya pada tahun 1996 di kebunnya di Desa Alasmalang, Kecamatan Kemranjen, di Kabupaten Banyumas, yang kemudian dikenal luas sebagai daerah asal durian Bawor. Sarno melakukan okulasi pohon durian Montong Oranye dengan 20 jenis durian lokal, termasuk durian Petruk, Otong, Sunan, Cinimang, Kuningmas, Kereng, Bluwuk, Oneng, dan Kumba Karna.

Tanaman-tanaman durian yang digunakan dalam eksperimen Sarno dibagi-bagi dalam kategori primer, sekunder, dan tersier. Durian Montong Oranye digunakan sebagai tanaman primer, dan dengan cara okulasi ditempelkan 10 tunas durian lokal kualitas unggulan yang berfungsi sebagai tanaman-tanaman sekunder. Sekitar tiga bulan kemudian, setelah hasil okulasi melekat dengan baik, ia kembali melakukan okulasi pada semua tanaman sekunder dengan menempelkan tanaman-tanaman tersier yang adalah durian-durian lokal kualitas sedang. Banyaknya jumlah tanaman yang digunakan menyebabkan tanaman primer dalam percobaannya tumbuh seperti pohon bakau dengan akar-akar yang menonjol di atas tanah.

Sarno mengatakan bahwa sistem okulasi bertingkat yang dilakukannya bertujuan untuk menjamin pasokan makanan yang lebih besar pada tanaman primer, sedangkan tanaman-tanaman sekunder dimaksudkan untuk memberikan pengaruh pada kualitas buah tanaman primer. Pada tahun 2000, tanaman percobaannya telah menghasilkan sekitar 30 buah durian. Berat buahnya ada yang lebih dari 10 kg seperti durian Kumba Karna, berkulit tipis, berdaging tebal, dengan warna kuning lebih tua menyerupai durian Kuningmas, rasanya legit, dan mengandung alkohol seperti durian Petruk. Ciri-ciri tersebut hingga sekarang melekat pada durian Bhineka Bawor Sarno. Kemranjen di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, diakui sebagai daerah asal durian ini.

Arti Nama Bawor


Penamaan durian Bawor oleh Pak Sarno tidak terpisahkan dari sejarah durian Bawor sebagai hasil pemuliaan durian yang dilakukan di Banyumas. Dikenal sebagai ikon masyarakat Banyumasan, “Bawor” atau “Ki Lurah Carub Bawor” dapat diperbandingkan dengan salah satu sosok punakawan yang populer dengan sebutan Bagong, putra bungsu dari Semar dan adik dari Petruk, yang namanya juga digunakan sebagai varietas durian lokal dari Jepara. Di Kabupaten Banyumas, kemunculan tokoh rekaan pewayangan ini senantiasa dinanti dalam pagelaran wayang kulit Banyumasan.

Watak cablaka atau blakasuta (artinya berbicara apa adanya) yang melekat pada tokoh pewayangan yang tutur katanya kasar, tidak serius, dan jujur ini merupakan ciri khas masyarakat Banyumasan yang kerap berbicara terus terang, blak-blakan, atau tanpa basa basi. Dalam mengungkapkan sesuatu, mereka biasa melakukannya secara terbuka, tetapi dengan nada humor supaya tidak menyakiti perasaan orang lain yang dikritik.

Mengenai penggunaan nama “Bhineka”, kata ini diambil dari semboyan negara Indonesia, yaitu Bhinneka Tunggal Ika. Sarno memaksudkannya untuk menyebut keragaman jenis durian lokal di tanah air—dengan beberapa di antaranya digunakan sebagai bahan percobaan okulasi untuk menghasilkan durian ini—seperti halnya keragaman budaya Indonesia. Nama “Sarakapita,” yang merupakan akronim nama Sarno, istrinya, dan ketiga putrinya, turut digunakan sebagai lambang kebersamaan keluarganya.

Durian Bawor vs Montong


Perbedaan durian Montong dan Bawor utamanya dapat dilihat dari segi berat dan ukuran buah. Buah durian Montong dikabarkan paling berat hanya 8 kilogram, sementara berat buah durian Bawor dapat mencapai 12 kilogram. Artikel di Detik.com bahkan menuliskan bahwa berat buahnya mampu mencapai 15 kg. Muhammad Reza Tirtawinata, seorang ahli durian, menyebutkan aspek ukuran yang sangat konsisten sebagai salah satu keistimewaannya. Menurut Reza, buah durian ini selalu memiliki ukuran yang terbesar di antara semua jenis durian lokal lain, yang cenderung bervariasi ukurannya.

Disebut sebagai “ikon melawan dominasi durian montong,” buah durian Banyumas ini memiliki penampilan yang kurang lebih sama dengan buah durian Montong dari Thailand. Sebagaimana Montong, kulit buahnya relatif tipis, bijinya kecil, dan daging buahnya tebal. Perbedaan durian Montong dan Bawor diketahui dari daging buah Bawor yang memiliki tekstur dan serat yang lebih halus, sementara warna dagingnya kuning keemasan seperti durian Medan dan durian Petruk. Selain itu, rasanya lebih legit dan sedikit pahit karena adanya kandungan alkohol.

Dari sisi harga jual, dalam sebuah artikel di Liputan6.com pada Januari 2016, durian ini dikabarkan masih kalah dibandingkan dengan Montong karena permintaannya kalah tinggi. Bagaimanapun, dengan rasa khas “duren” lokal Indonesia dan keistimewaan dari segi ukuran yang relatif lebih besar, durian Banyumas ini diprediksi dapat menyaingi kepopuleran durian asal Thailand tersebut. Dalam perdebatan seputar durian Bawor vs Montong, seorang penikmat durian dalam artikel di Kompas.com menyimpulkan, “Kalau montong kan hanya besar saja. Rasanya pun hanya manis begitu saja, tidak menggigit.”

Durian Bawor vs Musang King


Bibit durian Bawor Banyumas termasuk salah satu jenis bibit unggulan yang banyak dicari selain durian Petruk, durian Musang King, durian D24, durian pelangi Manokwari, durian Duri Hitam, durian merah Banyuwangi, durian Trisula, dan durian Cabe. Namun demikian, menurut Toko Trubus Bandar Lampung pada Maret 2018, varietas bibit durian yang paling favorit adalah Musang King, Bawor, dan Duri Hitam. Ketiganya disebut bisa berbuah dalam waktu 5 tahun setelah ditanam atau bahkan lebih cepat.
Abdullah Puteh, mantan Gubernur Aceh, pernah mengatakan bahwa di lahannya yang seluas 15 hektar akan ditanami berbagai tanaman seperti pohon jeruk pamello (jeruk merah) dari Pusat Persemaian Bibit Trubus di Bogor serta pohon durian Bawor dan Musang King dari Jawa Timur yang menurutnya dapat berbuah saat berumur 2,5 tahun atau tingginya 2 meter. Dari aspek harga, Detik.com pada Maret 2018 melaporkan bahwa seorang pembudidaya di Desa Rejosari, Purworejo, menetapkan harga jual Rp 110 ribu per bibit untuk tinggi pohon durian Bawor 1,5 m, dan Rp 75 ribu per bibit untuk Musang King.

Persaingan ketat terjadi antara bibit durian Bawor vs Musang King sebagai tanaman kegemaran para pembudidaya ataupun komoditi ekspor. Pembudidaya di Purworejo mengaku bahwa bibit kaki tiga dari kedua varietas durian tersebut tergolong paling favorit untuk investasi kebun durian. Sementara pada Mei 2018, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan bahwa, “Untuk durian, jenis musang king yang paling banyak permintaan,” ketika menjelaskan mengenai ekspor buah Indonesia yang naik sekitar 24% dibandingkan tahun sebelumnya.

Budidaya Durian Bawor


Budiatno, anak dari Sarno Sarno Ahmad Darsono sang penemu durian ini, mengungkapkan bahwa ayahnya menggunakan teknik budidaya yang disebut “Sarakapita.” Teknik rekayasa tersebut memanfaatkan kombinasi berbagai bibit unggul durian dengan metode okulasi untuk dijadikan satu pohon durian lokal unggulan yang juga dikenal sebagai “durian Bawor Pak Sarno.” Cara pengembangbiakan ini menghasilkan durian dengan rasa baru yang dianggap lebih enak, dan membuat tanaman tidak mudah roboh.

Selain dapat dipanen hingga tiga kali setahun, Sarno juga mengklaim bahwa durian ini dapat ditanam baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi, dan bahkan di pesisir pantai. Hal tersebut mungkin merupakan salah satu alasan mengapa budidaya durian Bawor dianggap menguntungkan, di samping keunggulan bobotnya yang “jumbo.” Curah hujan yang terlalu tinggi dapat menyebabkan hasil panen menurun karena banyak bunga yang rontok, namun kenyataan akan risiko ini tidak menyurutkan tingginya minat investasi kebun durian Bawor.

Harga Bibit Durian Bawor Kaki 3


Muhammad Reza Tirtawinata, seorang ahli durian yang pernah bekerja di Taman Buah Mekarsari, mengatakan bahwa penggunaan “teknologi kaki ganda” merupakan rahasia keunggulan durian kaki 3. Cara sambung durian kaki 3 yang lazim diterapkan di Indonesia ini memanfaatkan tiga batang tanaman durian lain sebagai penyangga batang utama tanaman yang ditumbuhkan dari biji. Dengan cara sambung durian kaki 3 seperti demikian, gen dan rasa asli dari bibit induk dapat dipertahankan.

Selain kemampuan dari akarnya yang banyak untuk menyerap nutrisi secara lebih baik, bibit durian Bawor Banyumas kaki tiga yang diperoleh memiliki kekuatan ekstra supaya tidak mudah tumbang. Keberadaan batang-batang tambahan mampu menahan beban berlebih dari tanaman yang kelak tumbuh besar. Dengan kondisi lingkungan yang sesuai, Reza mengklaim bahwa teknik tersebut membuat tanaman dapat segera berbuah ketika umurnya 3 tahun.

Tinggi pohon durian Bawor yang dijual sebagai bibit mempengaruhi harga jual. Durian Bawor dapat dipanen dalam waktu setidaknya 4 tahun setelah ditanam jika menggunakan bibit ukuran kecil, sementara bibit berukuran sedang dapat dipanen dalam waktu sekitar 3 tahun setelah ditanam. Harga bibit berkisar antara Rp 50 ribu dan Rp 4 juta tergantung jumlah tunas dan tinggi tanaman. Harga bibit durian Bawor kaki 3 relatif lebih mahal dibandingkan dengan bibit kaki tunggal, karena faktor keunggulan durian kaki 3 sebagaimana disebutkan di atas.
Alamat :
Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur
089686136834
cstanaman@gmail.com
Metode Pengiriman
@2020 Tanaman.co.id Inc.